Keselamatan Kerja Kerap Terlupa, Nyawa Pekerja Jadi Taruhannya

Kecelakaan kerja kerap datang tanpa peringatan. Kecelakaan kerja terjadi karena kelengahan pekerja, prosedur yang diabaikan, atau barangkali dari alat-alat berat yang bergerak di luar kendali. Di sektor konstruksi, risiko ini menjadi sahabat harian. 

Indonesia mencatat ratusan ribu kecelakaan kerja setiap tahunnya. Sebagian harus berakhir dengan kematian. Ironisnya, tak sedikit proyek berjalan tanpa standar pengendalian risiko yang memadai. 

Dikutip Kompas.id, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut jumlah kecelakaan kerja terus meningkat. Pada 2022 tercatat hampir 298.000 kasus, naik menjadi lebih dari 370.000 kasus pada 2023, dan selama Januari-Oktober 2024 sudah mencapai 360.000 kasus. Kenaikan ini menggarisbawahi pentingnya membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), karena penurunan angka kecelakaan kerja harus menjadi prioritas nasional.

Pengertian K3

Kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 adalah bentuk kerja sama antara pengusaha dan karyawan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif. Selama ini, kesehatan dan keselamatan kerja masih kerap dijadikan pelengkap administrasi semata, bukan prioritas utama di lapangan. 

Pada titik itulah riset dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Alfia Magfirona, S.T., M.T. yang bertajuk “Analysis of Occupational Health and Safety Risk Level in the Implementation of the Solo Balapan-Kadipiro Elevated Railway Construction Project (Stage 2)” menjadi relevan. Dia menelusuri satu hal krusial, memastikan keselamatan nyawa para pekerja dalam proyek pembangunan jalur kereta layang Solo Balapan-Kadipiro tahap dua. 

“Sektor konstruksi punya potensi bahaya yang besar, terutama di proyek-proyek besar seperti ini,” jelas dosen yang kerap disapa Alfia itu di ruang Sekretaris Program Studi Teknik Sipil, Kampus 2 UMS, Jumat (25/7/2025).

Proyek yang dikajinya membentang antara kilometer 104+900 hingga 106+900, melintasi titik-titik padat seperti simpang Joglo yang terkenal macet. Lokasi ini bukan hanya rawan dari segi kepadatan lalu lintas, tapi juga menjadi ruang kerja yang dipenuhi aktivitas hingga mobilisasi alat-alat berat.

Bersama mahasiswanya, Ghina Zamila Rachmawati, Alfia menggunakan pendekatan Job Safety Analysis (JSA). Tujuannya untuk menganalisis tingkat keparahan risiko kecelakaan kerja, serta merumuskan langkah-langkah pencegahan paling efektif.

Identifikasi Risiko Ekstrem

Dari hasil observasi dan wawancara dengan 34 pekerja dan staf proyek PT Adhi Karya, Alfia memetakan empat jenis pekerjaan utama yang dilakukan di lokasi. Mulai dari pemasangan pelat beton melintang (erection V-slab), pengecoran pelat beton di atas tiang pondasi (slab on pile), pengangkatan dan pemasangan balok beton prategang tipe I (erection PCI girder/Pre-stressed Concrete I), serta pemasangan sambungan pemuaian antar struktur (expansion joint). Dari keempatnya, aktivitas erection PCI girder terdeteksi sebagai yang paling berbahaya.

“Kategori risikonya ekstrem. Dua hal yang jadi sorotan itu yang sampai tertimpa material dan tertabrak alat berat,” kata pegiat Pusat Studi Transportasi UMS itu.

Aktivitas atau pekerjaan tersebut dilakukan di area yang sangat dekat dengan jalur kereta aktif. Meski akses warga ditutup, kereta tetap beroperasi. Keberadaan alat berat, ketinggian kerja, dan lalu lintas kereta aktif menciptakan potensi kecelakaan kerja yang tinggi.

Sementara hasil perhitungan gabungan antara kemungkinan suatu risiko terjadi dan tingkat dampaknya (severity index) menunjukkan risiko tersebut berada pada level ekstrem. Alfia fasih menjelaskan, tertimpa material mencatat skor probabilitas kejadian mencapai 43,06 persen dan tingkat dampaknya 98,61 persen. Jika dimasukkan ke rumus klasifikasi risiko, maka menghasilkan skor 15, yang tergolong kategori “ekstrem”. 

Risiko tertabrak alat berat atau bahkan kereta aktif yang melintas di sekitar proyek juga menunjukkan tingkat keparahan yang setara. Artinya, bila tidak dikendalikan dengan benar, risiko ini bisa berujung pada kecelakaan kerja serius bahkan kematian.

Upaya Mencegah Kecelakaan Kerja

Bahaya kecelakaan kerja yang teridentifikasi tak dibiarkan menggantung. Alfia dan tim menyusun serangkaian rekomendasi pencegahan kecelakaan kerja berbasis praktik konstruksi yang telah terbukti dan didukung studi ilmiah. 

Baca juga: Kecelakaan Berulang Smelter Morowali, Sudahkah K3 Optimal?

Solusi pertama yang Alfia sebut ialah mengenai pemahaman SOP atau standar operasional prosedur dan pengarahan keselamatan (safety briefing) sebelum bekerja. Kedua, penggunaan sabuk pengaman seluruh tubuh (full-body harness) dan peralatan pelindung diri (APD) lengkap.

Implementasi keselamatan kerja lainnya berupa penataan dan perbaikan sistem rangka atau perancah yang digunakan sebagai pijakan saat bekerja di ketinggian (scaffolding), termasuk akses kerja di ketinggian. “Penataan scaffolding harus diawasi ketat. Itu krusial untuk mencegah kecelakaan fatal,” tegas dia.

Selanjutnya, inspeksi alat berat secara berkala. Crane atau alat berat pemindah material, misalnya, lanjut Alfia, harus diperiksa oleh petugas keselamatan kerja sebelum dan selama operasional. Hal ini penting karena ayunan alat berat bisa menyebabkan cedera parah jika meleset dari jalur aman.

Sementara mengantisipasi risiko dari jalur kereta aktif, Alfia merekomendasikan pemasangan pagar pengaman (safety fence) di sepanjang area kerja. Di sisi lain, pelatihan intensif bagi para pekerja juga diperlukan agar mereka terbiasa mengantisipasi potensi bahaya dari pergerakan kereta.

Bagi akademisi seperti Alfia, riset bukan semata mengejar publikasi ilmiah. Ada tanggung jawab moral yang melekat dalam setiap data yang mereka kumpulkan. “Kita ini seperti dokter, tapi bedanya nyawa yang kita selamatkan ya lewat desain dan analisis,” tutur Alfia.

Ia menyadari banyak proyek yang tidak melibatkan akademisi dalam analisis risiko. Padahal, keterlibatan kampus dapat membantu mengidentifikasi bahaya yang kerap luput dari pengamatan lapangan. Terutama untuk proyek-proyek skala kecil atau swasta, di mana aspek keselamatan kerja kadang termarjinalkan.

Di sisi lain, Alfia juga mengakui adanya tantangan komunikasi. Hasil riset kerap tersimpan dalam bahasa ilmiah yang sulit dipahami pekerja lapangan. “Makanya kami butuh kolaborasi lintas sektor. Harus ada yang membantu menerjemahkan temuan teknis ini ke bentuk yang mudah dipahami oleh pekerja konstruksi yang mungkin bukan di level middle to high atau profesional,” jabar dosen mata kuliah Tugas Desain Geometrik Jalan Raya itu.

Ia membayangkan hasil riset semestinya tidak hanya untuk kepentingan publikasi, tetapi bagaimana itu bisa bermanfaat dengan dikemas ulang dalam bentuk visual atau pelatihan langsung di lapangan. Menurutnya, para pekerja akan lebih mudah memahami jika diberi contoh nyata, seperti apa yang bisa terjadi bila tidak mengenakan helm saat berada di bawah area pengangkatan besi. 

Alfia berharap hasil kajiannya bisa menjadi bahan pertimbangan para kontraktor, konsultan pengawas, hingga pemerintah. Standar prosedur kerja harus ditegakkan. Asesmen risiko wajib dilakukan sebelum pekerjaan mulai digarap.

Di akhir perbincangan, Alfia mengulang kembali satu hal yang bagi dirinya adalah napas dari risetnya, yakni menyelamatkan nyawa. “Setiap proyek harus memikirkan aspek keselamatan seperti memikirkan untung-rugi. Satu nyawa hilang itu bukan angka, ya! Itu keluarga, itu masa depan banyak orang. Nggak ada proyek yang pantas diselesaikan dengan mengorbankan nyawa,” tandas dia.

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Scroll to Top