Nama Naufal Rozan sering terdengar di kalangan mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sosoknya menonjol lewat prestasi dan ketangguhannya saat memimpin CUBE (Civil Engineering Unity for Building Innovation and Creativity), komunitas milik Teknik Sipil UMS yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkompetisi di bidang akademik.
Jauh sebelumnya, Naufal sempat menggantungkan impian menjadi arsitek. Sejak kecil ia gemar menggambar rumah dan bangunan, memenuhi halaman buku kosong dengan sketsa gambar. Namun kala tiba waktunya menentukan pilihan pendidikan tinggi, ia sadar pilihannya membutuhkan biaya yang terhitung mahal.
“Saya mikir, kuliah arsitektur butuh biaya besar. Bukan cuma uang kuliah, tapi juga peralatan gambarnya mahal. Lebih realistis saja, sih” kata Naufal kala ditemui di Laboratorium Bahan Bangunan pekan lalu.
Naufal sendiri dibesarkan di Genengharjo, Tirtomoyo, Wonogiri. Ayahnya tukang bangunan dan pemborong proyek kecil, sementara ibunya penjahit rumahan.
Pendidikan tinggi tetap menjadi cita-cita keluarganya. Hanya saja Naufal paham, ia harus realistis saat itu. Masuk SMK Negeri 2 Wonogiri jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan menjadi pilihannya. Harapannya sederhana, bisa cepat bekerja untuk membantu keluarga, dan barangkali bisa lanjut ke perguruan tinggi.
Semasa SMK, Naufal mengikuti praktik kerja lapangan di BSD City, Tangerang Selatan. Selama enam bulan, dirinya berkesempatan ikut serta dalam pembangunan rumah sakit daerah. Pengalaman itu menjadi bekal profesional pertamanya, sekaligus tamparan keras karena harus berani berkelana jauh dari rumah.
“Saya sempat sakit terus di awal. Masuk angin, matanya suka berkunang-kunang, sampai kangen rumah. Tapi karena dapat gaji pertama, syukur syukur bisa buat ditabung, saya memaksa bertahan,” kenang dia.
Usai lulus SMK di tahun 2020, Naufal memutuskan gap year selama setahun untuk bekerja dan menabung. Ia terlibat sebagai drafter dan surveyor freelance dalam proyek-proyek preservasi jalan long segment untuk Papua Barat, bekerja di bawah PT Eskapindo Matra.
“Saat itu memang nggak langsung ke Papua Barat, karena mengerjakan draft gambarnya saja di kantor. Kalau yang survei langsung biasa yang ahli saja,” terangnya.
Tak lama berselang, ia berpindah ke proyek serupa di Jawa Barat, kali ini bekerja sama dengan PT Archende. Di proyek ini, ia lebih banyak terjun ke lapangan, menangani survei topografi dan dokumentasi teknis.
“Sama seperti sebelumnya, masih mengerjakan rehabilitasi jalan provinsi long segment. Titik surveinya waktu itu berada di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, di sekitar kawasan Institut Pertanian Bogor,” kata Naufal.
Naufal menjelaskan selama proyek berlangsung, ia bersama tim kerap bolak-balik antara Bogor dan Bandung untuk pengolahan data teknis. Hasilnya kemudian diserahkan ke Bina Marga Jawa Barat.
“Saya dapat banyak ilmu dari lapangan, seperti cara kerja Civil 3D, Land Desktop, dan teknik dokumentasi lapangan. Itu semua nggak saya dapat waktu sekolah,” sambung dia begitu antusias.
Dari berbagai proyek yang ia jalani, Naufal mulai menyadari ada mimpi yang tumbuh dalam dirinya. Terlebih kala ia belajar dari pamannya, lulusan teknik sipil yang kerap berbagi pengalaman saat menangani proyek-proyek besar.
Perspektif baru timbul dalam pikiran Naufal. “Hmm, sepertinya prospek kerja di bidang ini (teknik sipil) cukup menjanjikan,” kenangnya.
Sebagian dari hasil kerjanya selama masa gap year ia sisihkan untuk membiayai kuliah nanti. Sementara sisanya, ditutup oleh kakak perempuannya yang sejak awal berkomitmen penuh untuk mendukung pendidikan sang adik hingga tuntas.
Naufal akhirnya membulatkan tekad untuk mendaftar Teknik Sipil UMS pada 2021. Awalnya ia masuk tanpa beasiswa, tapi kemudian berhasil mendapatkan Beasiswa Ikatan Mahasiswa Prestasi (IMP) Kabupaten Wonogiri setelah mengusulkan inovasi pemanfaatan sampah plastik sebagai pengganti aspal untuk jalan desa.
Sejak semester awal, ia aktif di CUBE UMS. Dari staf pelatihan software, Naufal kemudian menjabat sebagai ketua umum pada 2024.
Namun ada beberapa bulan pada masa kepemimpinannya di CUBE, Naufal butuh menepi. Di tengah persiapan mengikuti lomba inovasi teknik sipil di UGM, ibunya mengalami kecelakaan motor.
“Ibu stroke. Tiga bulan saya absen dari kampus, bolak-balik Kartasura–Jogja, soalnya ibu dirawat di rumah sakit yang ada di Jogja. Tapi teman-teman di CUBE tetap jalan. Mereka luar biasa, pun bisa memahami kondisi keluarga saya,” ujarnya.
Naufal memang tak bisa jauh-jauh dari akademik. Ia pernah meraih Juara Harapan 2 dalam National Concrete Competition 2022, Finalis Earthquake Resistant Design Competition 2023, 7 besar Civil Innovation Challenge UGM 2023, hingga menakhodai Tim AMNR CUBE UMS dalam ajang NTU International Bridge Design Challenge 2025.
Ajang desain jembatan bergengsi di kampus kondang Nanyang Technological University (NTU), Singapura itu diikuti oleh 172 tim dari berbagai negara. Setelah lolos tahap seleksi desain digital, hanya 70 tim yang diundang ke final di kampus NTU.
“Desain jembatan kami terinspirasi dari bentuk durian. Karena studi kasusnya di kawasan perkebunan durian,” jelas Naufal.
Naufal saat itu berpasangan dengan Alya Maharani, teman seangkatannya. Dengan pendampingan dari Rama Rizana, S.T., M.Sc., mereka merancang model jembatan dengan panjang 30,5 cm dan berat 16 gram.
Pada babak final, keduanya menduduki posisi 6 besar dan presentasi terbaik kedua dari seluruh peserta. “Poin penilaiannya mencakup kekuatan struktur, efisiensi biaya, dan jejak karbon. Alhamdulillah kami bisa bersaing di situ,” katanya penuh syukur.
Kesibukan Naufal kini sebagai mahasiswa akhir tak lain ialah bergumul dengan tugas akhirnya. Di samping itu, ia juga seorang drafter struktur lepas di perusahaan properti Atlantis Land Colomadu.
Pilihan karier setelah lulus nanti tak jadi soal. Naufal mantap lanjut ke jenjang profesional sebab ia telah mengantongi banyak pengalaman praktis. Ia pun pernah terlibat dalam pengawasan proyek pembangunan rumah sakit daerah tipe D di Purwantoro saat magang di PT Hasta Karya Laksana.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menargetkan mengikuti sertifikasi tenaga ahli dan sekolah profesi untuk mendapatkan gelar insinyur. Bahkan mulai mencuri start untuk mendalami Building Information Modeling (BIM), salah satu keahlian teknis yang kini makin dibutuhkan dalam dunia konstruksi.
“BIM ini sudah jadi standar baru. Saya ingin siap dengan itu dari sekarang,” katanya.
Selama ini, Naufal percaya sebagian besar keterampilan krusial justru diasah di luar ruang kelas. Dari proyek ke proyek, ia belajar bagaimana berpikir cepat, berkomunikasi dalam tim, dan tetap tenang saat harus mengambil keputusan mendesak di lapangan.
“Mungkin itu alasan kenapa saya masih mau mencoba banyak kesempatan. Nggak mau menyesal,” pungkas dia.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
sumber : ums.ac.id



