Langkah Qomarun Mengupayakan Arsitektur Hijau Lewat Penelitian Maupun Komunitas Sebagai Upaya Menyongsong Nol Emisi 2060

Pelataran rumah milik Qomarun tidaklah jembar. Namun cukup asri untuk bersantai sambil menikmati semilir angin yang membelai lembut. Menyempil di antara hunian lainnya di Jalan Duwet III, Kota Surakarta, rumah milik Qomarun nampak rimbun. Dinding bangunan tiga lantai itu terbungkus aneka jenis tanaman merambat.

Qomarun mempergunakan lantai dasar rumahnya sebagai ruang studio arsitek, yang dilengkapi perpustakaan, garasi, dan kolam ikan di bagian bawahnya. Sementara ruangan lainnya ia tempatkan mulai lantai dua rumah. Ada pula instalasi aviari di muka rumah. Qomarun mengisinya aneka jenis burung.

Rumah Qomarun sangat mudah dikenali berkat lebatnya vegetasi di sekeliling rumah. Pemilik rumah memasang tanaman untuk menciptakan nuansa hijau yang asri. “Ini tanaman sirih-sirihan,” ucap pria yang memiliki julukan DrQ sambil menunjuk tanaman di sudut dinding.

Memang, semasa menempuh studi doktoralnya, pria yang kini menjadi dosen di Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), ini telah jatuh hati pada arsitektur hijau. Ia tergugah manakala mendengar kabar mengenai pemanasan global yang santer terdengar memasuki tahun 2000-an.

Kediaman Qomarun menjadi eksperimen pertamanya dalam mengembangkan konsep hunian hijau. Ia menamainya Rumah MAPAN, akronim mandiri pangan dan energi. Meski rumah tersebut sudah dibangun sejak 2008, konsep Rumah MAPAN diimplementasikan bertahap sejak 2014. 

Baca Juga: Rumah Hijau di Gang Senggol

Konsep rumah tumbuh dipilih dalam membangun rumah, yang tiap lantainya memiliki luas 42 meter persegi. Konsep ini mengakomodir pertumbuhan rumah yang menyesuaikan perubahan kebutuhan ruang seiring waktu. 

“Namanya rumah tumbuh, dibangun satu lantai demi satu lantai. Tidak seperti rumah biasa yang langsung blek jadi rumah,” katanya pertengahan Mei lalu.

Sejumlah instalasi pun dipasang untuk melengkapi Rumah MAPAN. Mulai dari panel surya berkapasitas 1.600 watt peak (wp), instalasi media tanam akuaponik, instalasi aviari, taman vertikal, dan kolam ikan air tawar.

Instalasi demikian dipilih agar tidak mubazir sumber daya yang alam berikan. Misalnya, air kolam ikan yang kotor dan mengandung hasil ekskresi ikan, dialirkan ke atas dengan pompa bertenaga panel surya, menuju instalasi tanaman akuaponik. Tumbuhan akan menyerap mineral hasil ekskresi ikan. Air kemudian menjadi bersih dan dialirkan kembali menuju kolam menggunakan gravitasi bumi. 

Lain halnya dengan panel surya yang mengubah panas matahari menjadi sumber energi listrik. Panel surya seharga Rp24 juta itu mampu menghasilkan listrik sebesar 400 watt sampai 600 watt untuk menyalakan pompa air kolam, dispenser, kipas, dan lampu di lantai dasar. 

Alhasil konsumsi listrik berkurang. Sebelum memakai panel surya, Qomarun menghabiskan Rp1,6 juta per bulan untuk biaya listrik. Biaya tersebut turun jadi Rp1 juta per bulan setelah memasang panel surya. “Lumayan turun Rp600 ribu,” beber dia.

Selain mandiri energi, Rumah MAPAN juga mengupayakan kemandirian pangan. Kolam ikan yang Qomarun bangun kemudian diisi tiga jenis ikan konsumsi, yakni ikan lele, ikan patin, dan ikan gurame. Hasil panen ketiga jenis ikan itu mencapai 1 ton per tahun. 

Sayur-mayur dari akuaponik dipanen setiap tiga bulan, seperti sawi, kangkung dan pakcoi. Sementara panen pangan singkong dan ketela dilakukan melalui teknik polybag yang ditanam di jalur hijau depan rumah. 

Ikhtiar untuk membumikan arsitektur hijau terus berlanjut. Pada 2022, Qomarun mendapatkan hibah sebesar Rp300 juta melalui skema Kedaireka dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Hibah tersebut digunakan untuk mengimplementasikan konsep Rumah MAPAN di lima rumah di kawasan Karangasem, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Kelima rumah tersebut merupakan rumah anggota Komunitas Jaringan Petani Kota Surakarta atau Jaritaniku dan masih bertahan hingga kini.

Rumah MAPAN berhasil lolos sebagai peserta IAI Awards 2021 yang diprakarsai Ikatan Arsitek Indonesia. Rumah MAPAN memenuhi empat kunci kriteria Greenship Home V.0.1, yakni EASY, singkatan dari energi, air, sampah, dan diversify. Hasilnya, Rumah MAPAN diganjar kategori platinum.

Qomarun berpandangan arsitektur adalah cabang ilmu yang menggabungkan seni dan teknik. Gagasan itu bukan bualan semata. Sebab, darah seni telah mengalir dalam diri Qomarun sejak belia. Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 9 September 1969, ini mengaku darah seni itu menurun dari bapaknya. 

“Ayah saya sambil bekerja sebagai pegawai negeri sipil, juga masih senang melukis. Yang paling saya ingat itu melukis wayang. Beliau hafal detail wayang di luar kepala,” kenang dia.

Meskipun ilmu sains seperti fisika dan matematika menjadi subjek favoritnya semasa remaja, ia tak lantas meninggalkan sisi seninya. Terbukti, Qomarun pernah menjuarai lomba membuat gambar kartun saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri Sukoharjo. 

Selepas lulus SMA, Qomarun melanjutkan studi jenjang sarjana di Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) sampai lulus pada 1993. Begitu lulus, karier profesional Qomarun dimulai dengan bergabung dengan Studio Pariwisata (Stupa) UGM. 

Stupa UGM berfokus pada arsitektur urban dan perancangan wilayah wisata. Namun, ia kurang sreg. “Pinginnya jadi arsitek yang merancang bangunan,” katanya.

Qomarun kemudian melanjutkan kariernya ke PT Pola Kencana Utama, Jakarta, pada 1993. Tak sampai setahun, ia kemudian pindah ke PT Arkonin–anak usaha PT Pembangunan Jaya yang bergerak di bidang konsultan konstruksi. Di sinilah karier Qomarun di dunia arsitektur melejit. 

Indonesia pada tahun 90-an adalah negara yang giat membangun. Tidak mengherankan jika Qomarun kerap menggarap berbagai proyek gedung baru di Jakarta. “Zaman itu kan ekonominya sangat mendukung ya. Banyak mal, hotel, perkantoran, hingga perumahan baru yang hadir di zaman itu,” jelasnya.

Salah satu pengalaman Qomarun yang paling berkesan adalah terlibat dalam proyek pembangunan gedung Jakarta Stock Exchange (kini Bursa Efek Indonesia/BEI) dan Jakarta Financial Tower di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD), Jakarta, tahun 1995.

Proyek tersebut merupakan rancangan biro arsitektur asal Amerika Serikat, Brennan Beer Gorman. Proyek tersebut melibatkan gabungan tiga konsultan arsitek dalam negeri, yakni Encona Engineering, Atelier 6, dan Arkonin. 

“Gabungan ketiga konsultan tadi menjadi JSEB-JFT Consortium. Basic design-nya dari Brennan Beer Gorman, sedangkan Konsorsium JSEB-JFT adalah tim arsitek lanjutan,” imbuh dia

Sembari meniti karier, Qomarun tak lupa dengan pendidikan. Ia menamatkan studi magister manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IPWI Jakarta pada 1997. Sementara studi doktor arsitektur ia raih dari UGM pada 2014.

Manakala badai krisis moneter 1997-1998 menerpa, Qomarun, memutuskan banting setir menjadi dosen di Arsitektur UMS. Di awal pekerjaannya sebagai dosen, ia masih kerap bolak-balik ke Jakarta untuk menuntaskan proyeknya. 

Qomarun tak melupakan minatnya pada profesi arsitek, meski telah berkiprah di dunia akademik. Memasuki milenium baru, dirinya mendirikan Studio KRATON, akronim dari Kreasi Arsitektur dan Kota Madani. 

“Studio KRATON lebih mengedepankan arsitektur hijau. Setiap karya yang saya buat harus lolos green level platinum. Bangunan yang tidak boros energi,” terangnya.

Di suatu waktu, Wali Kota Surakarta periode 2012-2021, FX. Hadi Rudyatmo, pernah mengumpulkan sejumlah orang-orang kreatif di Kota Bengawan dalam sebuah forum. Pria berkumis tebal itu bilang, “Mbok aku digawekne event internasional,” tutur Qomarun mengulangi ucapan Rudy.

Qomarun dan sejumlah perwakilan yang hadir dalam forum itu mengusulkan untuk membentuk komunitas resmi. Maka, lahirlah komunitas bernama Solo Creative City Network (SCCN) pada 2014.

Qomarun menjelaskan SCCN berdiri atas prakarsa tujuh orang, termasuk dirinya, yakni dosen Arsitektur UMS Ir. Alpha Febela Priyatmono, M.T., pendiri Rumah Rempah Karya Paulus Mintarga, pendiri Fresh Blood Indonesia Irfan Sutikno, dosen Institut Seni Indonesia Surakarta Prof. Dr. Dharsono, M.Sn. (almarhum) dan Dr. Dhian Lestari Hastuti, S.Sn., M.Sn., serta pemilik Omah Sinten Slamet Raharjo.

“SCCN itu sebenarnya orang-orang seni dari berbagai bidang. Ada yang arsitektur, desain interior, wayang, tari, sampai kuliner. Total ada 16 subsektor,” beber dia.

Dari tangan mereka, lahirlah event dua tahunan Bamboo Biennale yang mulai berjalan sejak 2014. Event Bamboo Biennale mengangkat karya seni bambu, yang melibatkan ahli bambu, arsitek, perajin dan pegiat bambu, hingga musisi dari dalam dan luar negeri.

Dua tahun kemudian, Qomarun bergabung dengan Gerakan Restorasi Sungai Indonesia yang digagas dosen UGM Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono. Gerakan ini berupaya mengembalikan fungsi strategis sungai, yakni suplai air, menanggulangi banjir, tanggulangi kekeringan, alat transportasi, iklim mikro, kesehatan ekosistem, jalur hijau, hingga pendidikan. 

Pada 2018, Qomarun berkolaborasi dengan mahasiswa Arsitektur UMS dengan mendirikan Komunitas Tepian Air (KOTA). Komunitas ini bergerak pada arsitektur tepi air yang sesuai dengan salah satu mata kuliah  Arsitektur UMS, Waterfront Design. 

Selaras dengan riset mengenai Rumah MAPAN, Qomarun mendirikan Urban Farming Community Surakarta (UFCS). Komunitas tersebut mencoba mengampanyekan kemandirian pangan dan energi dari rumah. 

Geliat Qomarun bersama sejumlah komunitas tersebut menjadi ikhtiarnya untuk mewujudkan bumi yang lebih hijau. Kehadiran bangunan hijau, katanya, sangat penting untuk menjaga kelangsungan kehidupan di muka bumi. Ikhtiar tersebut sekaligus menjadi komitmen Qomarun dalam menyongsong Net Zero Emission 2060 yang kini terus digalakkan

“Kalau bangunannya sudah terlanjur tidak hijau, akan ada dua pilihan di tahun 2060. Dihancurkan atau diperbaiki menjadi bangunan hijau,” pungkasnya.

sumber : ums.ac.id

Penulis : Gede Arga Adrian

Editor : Al Habiib Josy Asheva

Scroll to Top