Puluhan kelomang berseliweran di dalam akuarium-akuarium kaca di rumah Rifan Susanto, mahasiswa semester 8 Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kehidupan makhluk bercapit itu menjadi kesibukan baru yang membesarkan nama Rifan, panggilan akrabnya, di jagat maya.
“Ukurannya beragam, dari sebesar biji kenari sampai yang hampir seukuran kepalan tangan,” ujar laki-laki kelahiran Boyolali, Jawa Tengah itu saat menceritakan kegemarannya di lobi Gedung Induk Siti Walidah UMS, paruh kedua Juli lalu. Dia bahkan tak menyangka hobi masa kecilnya yang dulu sempat dilarang, kini justru menjadi ladang rezeki bagi dia.
“Dulu sering dimarahin ibu, soalnya hewan-hewan kayak ikan cupang begitu cepat matinya. Waktu kecil kan belum bisa merawat ya, masih asal-asalan juga. Jadi dilarang memelihara hewan lagi,” kenang dia.
Tapi larangan sang ibu tak memadamkan rasa ingin tahu Rifan tentang dunia binatang. Seiring bertambahnya usia dan kedewasaan dalam merawat hewan, dia kembali menekuni minat lamanya.
Kali ini tidak sekadar memelihara. Rifan merintis bisnis yang kini cukup banyak dikenal publik, yang dinamainya ‘Kelovemang’. Dia menjual kelomang darat (land hermit crab) melalui konten-kontennya di Instagram.
Lebih Dulu Jadi Kreator Seni Visual
Sebelum dikenal sebagai juragan kelomang, bungsu dua bersaudara itu sebenarnya sudah punya nama di kalangan pecinta seni digital. Rifan mulai merintis sebagai content creator sejak duduk di bangku SMA.
Kala pandemi melanda dan sekolah diliburkan, Rifan memanfaatkan waktu luang untuk menggambar. Dia gemar memakai media yang tak lazim, seperti solasi kertas, cap kertas, dan bahkan sisa potongan kulit buah apel untuk menghasilkan potret wajah.
Kreativitas dan keunikan menggambar itulah yang mengantarkan Rifan bertemu figur-figur publik seperti Anies Baswedan, Jerome Polin, Sandiaga Uno, dan lainnya. “Justru bekal saya dari konten gambar, perlahan pengikut TikTok saya naik hampir menyentuh 300 ribu pengikut,” tuturnya gamblang.
Pengalaman panjang sebagai kreator gambar juga membuat Rifan cukup dilirik banyak merek ternama. Beberapa di antaranya seperti Aquaproof, Joyko, Copic, bahkan merek produk perawatan tubuh dan kulit seperti Scarlett Whitening pernah menjalin kerja sama dengannya.
Tentang Kelovemang
Seiring waktu, fokus kontennya bergeser. Ia menemukan gairah baru dalam dunia kelomang. Semua bermula dari kunjungan iseng ke pantai, saat ia membawa pulang beberapa ekor kelomang liar.
“Saya riset, ternyata komunitas kelomang itu besar, kebanyakan di Facebook. Kayaknya, saya punya potensi untuk mengangkatnya ke media sosial lain, deh!” pikirnya.
Melihat peluang itu, Rifan mantap mengangkat kelomang sebagai konten di TikTok melalui akun pribadinya @rivantelminthes. Karena sudah memiliki banyak pengikut dari konten-konten gambar sebelumnya, akun itu menjadi wadah potensial untuk mengenalkan kelomang ke audiens yang lebih luas.
Tahun 2022, ia membuat akun Instagram bernama @kelovemang untuk memasarkan kelomangnya. Dalam waktu yang relatif singkat, Kelovemang menjadi toko rujukan terbesar pecinta kelomang di Indonesia.
Bermodalkan uang sebesar Rp100 ribu dan empat ekor kelomang, Rifan memulai bisnis dari rumah. Ia menjual hewan peliharaan itu seharga Rp50 ribu per ekor. “Untungnya kecil, tapi modal utamanya justru menurut saya bukan uang, ya. Saya punya modal konten dan audiens,” ujarnya.
Daya tarik Kelovemang bukan sekadar menjual kelomang darat yang khas dari suatu daerah tertentu, melainkan juga menyebarkan ilmu soal konservasi dan perawatan hewan tersebut. “Memang mulanya dari akun pribadi TikTok, sekarang sudah ada Instagram dan merambah ke YouTube,” imbuh dia.
Edukasi yang disampaikan Rifan mencakup berbagai hal, mulai dari cara merawat kelomang, membuat habitat buatan yang menyerupai alam aslinya, hingga memberi pemahaman soal bahaya penggunaan cangkang berwarna yang kerap mencelakai hewan tersebut. “Saya bikin konten semacam: ‘Kelomang itu butuh air asin nggak, sih? Ini jawabannya!’ Jadi sekalian ngajarin juga,” jelasnya.
Konten yang ringan namun edukatif itu sukses menyedot puluhan ribu hingga jutaan penonton. Pengikutnya di TikTok kini menembus di angka 340 ribu, dan kanal YouTube-nya sudah mengantongi Silver Play Button dengan lebih dari 100 ribu subscriber.
Di Instagram, akun @kelovemang tumbuh stabil dengan puluhan ribu pengikut, bahkan lebih ramai ketimbang akun pribadi Instagram-nya yang dulu dikenal sebagai kreator seni visual.
Kini, di tahun ketiga bisnisnya berjalan, omset Kelovemang bisa menembus Rp40 juta per bulan. Rifan sudah mempekerjakan satu admin online dan satu staf operasional. Segala lini dijalankan dengan profesional, termasuk garansi uang kembali atau ganti kelomang, jika kelomang mati dalam perjalanan.
“Pernah kirim ke Papua dua minggu, aman. Tapi pernah juga ke Bogor tiga hari malah mati. Jadi saya pastikan packing-nya sesuai standar dan kasih edukasi juga. Kami nggak bisa memastikan kalau itu kesalahan dari pihak ekspedisi,” kata Rifan.
Keunikan Kelovemang dengan penjual kelomang lain adalah keberpihakannya pada kehidupan hewan itu sendiri. Rifan menolak menjual kelomang ke anak-anak kecil yang dianggap belum cukup mampu merawat hewan dengan benar.
Harga yang dipatok Rifan pun cukup variatif. Mulai dari Rp50 ribu untuk kelomang mini, sementara untuk kelas kolektor harga kelomang bisa mencapai Rp2,5 juta tergantung keunikan corak cangkang dan panjang kaki kelomang.
Kelomang bukanlah hewan yang bisa dibudidayakan secara massal. Hingga kini, semua pasokan Rifan masih berasal dari alam. Ia bekerja sama dengan para pencari kelomang dari berbagai pelosok negeri seperti Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, hingga Kalimantan. Lokasi di mana kelomang langka seperti golden pitcher hidup.
Meski belum termasuk satwa yang dilindungi, Rifan menyadari eksploitasi besar-besaran bisa berdampak pada populasi kelomang. Beruntung, para pencari kelomang yang menjadi mitranya selama ini mengambil secukupnya. Populasi di alam pun masih tergolong aman.
“Jadi yang punya kapasitas menetapkan angka batas penangkapan spesies tertentu biasanya badan konservasi atau badan riset. Tentunya setelah spesies tersebut dikategorikan status perlindungan atau perlunya dikonservasi, sedangkan kelomang belum,” jelasnya fasih setelah meriset beberapa persoalan konservasi hewan di Indonesia.
Namun, masalah justru muncul ketika kelomang dibeli tanpa pengetahuan cukup, terutama oleh anak-anak. “Kalau cuma beli di pasar malam dan nggak dirawat dengan benar, ya tetap merugikan. Makanya konten Kelovemang selalu disertai edukasi, biar pemelihara paham dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Sementara dari sisi penjualan, ada jejaring distribusi dan pertimbangan ekologis yang Rifan pikirkan matang-matang. Untuk ekspor, misalnya, ia memilih menahan diri karena belum yakin soal regulasi perlindungan satwa.
“Kalau ekspor keliru, bisa dituduh eksploitasi. Saya belum berani ambil risiko itu. Meski banyak itu pembeli dari luar negeri yang DM (direct message) Instagram kami,” ucap Rifan.
Di tengah kesibukan sebagai pengusaha dan influencer muda, Rifan tetap menjalani kuliah arsitektur. Meski tidak aktif berorganisasi, ia baru saja merampungkan skripsinya tepat waktu, dan bahkan sempat menjalani magang di Andyrahman Architect dan Akssa Publisher yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur.
“Waktu magang itu saya vakum dari Kelovemang. Semua stok saya habiskan, jual dalam sehari lewat promo. Ternyata laku ribuan ekor,” katanya bangga. Ketika kembali dari Surabaya dan iseng membuka kembali akun bisnis kelomangnya, omsetnya justru melonjak lebih tinggi dari sebelumnya.
Pengalaman magang membuatnya sempat terpikat dengan dunia profesional arsitektur. Mahasiswa Arsitektur UMS yang akan segera wisuda September mendatang itu tak menutup kemungkinan suatu hari bekerja sebagai arsitek, meskipun hari ini ia merasa lebih terikat dengan bisnis kelomangnya.
“Saya nggak menutup diri. Kalau suatu saat ada momentum yang lebih layak, ya saya pertimbangkan dan ambil. Tapi untuk sekarang, fokus saya masih di Kelovemang,” tandas dia mantap.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
sumber : ums.ac.id



