Penerapan biodiesel B50 dinilai menjadi solusi ketahanan energi di tengah ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz. Apa tantangannya?
Pemerintah berencana menerapkan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Pemerintah berdalih langkah tersebut menjadi tameng di tengah gejolak harga minyak dunia akibat perang Amerika Serikat-Israel-Iran.
Pengujian biodiesel B50 terus dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada sejumlah kendaraan. Salah satunya adalah alat berat pertambangan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan penerapan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional.
“Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tutur Eniya, dikutip Kamis (16/4/2026).
Hal senada diungkapkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang mengklaim biodiesel B50 dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) fosil sebesar 4 juta kiloliter. Angka itu setara dengan Rp48 triliun.
Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan untuk mesin diesel yang berasal dari minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit atau minyak jarak pagar. Penerapan biodiesel di Indonesia telah dimulai sejak 2006. Dasar hukum penerapannya tercantum dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.
Penerapan biodiesel dimulai dari B5, dengan komposisi 5 persen minyak sawit. Komposisi minyak sawit terus bertambah seiring waktu, mulai dari B10, B20, B30, hingga B40.
Biodiesel B40 adalah jenis biodiesel yang terdiri dari 60 persen solar dan 40 persen minyak kelapa sawit. Indonesia telah menerapkan biodiesel B40 pada 1 Januari 2025. Pemerintah mengklaim penerapan B40 berhasil menghemat devisa negara senilai Rp 93,43 triliun per September tahun lalu.
Pemerintah berencana menerapkan biodiesel B50 selambat-lambatnya pada 2027. Akibat harga minyak dunia yang tidak stabil akibat perang Amerika Serikat-Israel-Iran, pemerintah memutuskan mempercepat penerapan biodiesel B50 pada 1 Juli 2026.
Tantangan Biodiesel B50
Deputi Bidang Riset, Inovasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta Rois Fatoni, S.T., M.Sc., Ph.D., mengatakan langkah pemerintah menerapkan biodiesel B50 merupakan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak global.
Caranya dengan mencari BBM nabati tambahan yang dapat menekan impor BBM. “Minyak nabati tersebut dapat diperoleh dari minyak kelapa sawit yang tumbuh di Indonesia,” ungkap Rois saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis.
Kendati demikian, dosen Teknik Kimia UMS itu mengatakan penggunaan biodiesel pada mesin diesel memiliki sejumlah tantangan.
Biodiesel memiliki nilai bakar yang jauh lebih rendah dibandingkan solar murni. Alhasil penggunaan biodiesel cenderung lebih boros dibandingkan solar untuk menempuh jarak yang sama.
“Sama-sama satu liter, energi yang dihasilkan biodiesel lebih sedikit karena mengandung senyawa oksigen. Sedangkan solar murni hanya terdiri dari unsur karbon dan hidrogen,” paparnya.
Pemakaian biodiesel dapat menyebabkan filter solar mesin diesel cepat kotor. Membuat filter tersebut harus lebih sering diganti. Rois mengatakan hal itu disebabkan senyawa organik minyak nabati yang lebih kompleks dibandingkan senyawa minyak bumi. “Semua biodiesel seperti itu,” tambah dia.
Di sisi lain, penggunaan minyak sawit dalam komposisi yang lebih banyak cenderung kurang ekonomis. Penyebabnya adalah harga komoditas minyak sawit yang lebih mahal dibanding harga solar.
Harga indeks pasar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak sawit mentah mencapai Rp13.910 per liter. Lebih tinggi dibanding harga diesel konvensional yang berkisar Rp11.000 hingga Rp12.100 per liter. “Ini karena minyak sawit sudah termasuk komoditas internasional,” imbuhnya.
Rois juga menyebut penggunaan minyak sawit pada komposisi biodiesel B50 berisiko menimbulkan sifat ketergantungan. Hal ini berisiko apabila terjadi fluktuasi harga dan gangguan pasokan minyak sawit di dalam negeri, seperti yang terjadi pada 2022 silam.
Biodiesel Selain Sawit
Rois mendorong pemerintah dan akademisi di Indonesia untuk mencari alternatif sumber minyak nabati lain yang dapat menggantikan minyak sawit dalam komposisi biodiesel. “Peran dari universitas itu adalah mengeksplorasi,” tegasnya.
Salah satu contohnya adalah minyak dari tanaman jarak pagar. Minyak jenis ini telah digunakan pada dunia otomotif. Salah satunya untuk pelumas pesawat pada masa pendudukan Jepang pada rentang 1942-1945.
Dari segi ekonomi, Rois melihat minyak jarak belum termasuk dalam komoditas internasional. Hal ini membuat harga minyak jarak berpotensi lebih murah karena belum terpengaruh harga komoditas global.
Namun, penggunaan minyak jarak masih perlu dukungan lebih lanjut dari berbagai pihak. Sebab lahan pertanian buah jarak jumlahnya belum seluas lahan perkebunan kelapa sawit. Hal ini membuat proses transisi dari minyak sawit ke minyak jarak berpotensi memakan waktu lebih lama lagi.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva



